Rabu, 04 April 2012

"Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." (Yes 50:4-9a; Mat 26:14-25)



" Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala.5 Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku." Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah. Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?" Ia menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan." Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya." (Mat 26:14-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaa hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Secara manusiawi kiranya Yudas Iskariot akan dinilai sebagai pengkhianat, namun secara imani atau spiritual kiranya apa yang dilakukan oleh Yudas Iskarot untuk menyerahkan Yesus kepada musuh-musuhNya merupakan kehendak Allah. Pengkhiatan Yudas mungkin menjadi kekecewaan bagi banyak orang, tetapi mungkin juga menjadi hiburan. Yang kami maksudkan dengan menjadi hiburan adalah jika kita mendidik sekian banyak murid atau anak-anak dan ada yang tidak berhasil, hendaknya tidak perlu mengeluh atau menggerutu, karena Yesus pun mendidik dua belas orang, ternyata yang satu berkhianat. Yesus memang harus diserahkan kepada musuh-musuhNya untuk memenuhi tugas pengutusanNya sebagai Penyelamat Dunia. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua, segenap umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus, untuk mawas diri: apakah kita siap sedia untuk diserahkan kepada 'musuh-musuh' kita. Yang kami maksudkan dengan musuh-musuh adalah apa-apa atau segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pribadi kita atau tidak kita senangi, namun hal itu menjadi kwajiban atau tugas pengutusan kita. Dengan kata lain apakah kita tetap setia dan taat pada tugas pengutusan, meskipun untuk itu harus menghadapi ancaman, masalah dan tantangan. Marilah kita persembahkan diri kita seutuhnya kepada aneka tugas atau kewajiban yang diserahkan atau dibebankan kepada kita, tanpa mengeluh atau menggerutu. Jika ada orang yang menyakiti atau mengecewakan kita, hendaknya tidak usah marah, mengeluh atau menggerutu, melainkan terimalah sebagai kasih karunia Tuhan yang harus kita nikmati.
·   "Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi" (Yes 50:4-6). Apa yang disharingkan oleh nabi Yesaya ini hemat kami merupakan penghayatan spiritualitas kemuridan. Murid dalam faham Kejawen senantiasa taat dan setia pada gurunya, ia sungguh mendengarkan dan melaksanakan perintah sang guru, tanpa menolak atau memberontak sedikitpun. Spiritualitas kemuridan hendaknya juga menjadi pegangan atau pedoman hidup orang beriman. Bukankah beriman berarti membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan? Pembaktian diri sepenuhnya kepada Tuhan harus kita wujudkan dalam pembaktian diri kita kepada saudara-saudari atau sesama kita. Para suami-isteri yang saling mengasihi kiranya memiliki pengalaman mendalam dalam hal saling membaktikan diri, antara lain dengan telanjang bulat satu sama lain dan tiada yang tertutupi sedikirpun tubuhnya ketika saling berhubungan seksual sebagai wujud saling mengasihi atau membaktikan diri. Maka kami berharap kepada anda berdua, suami-isteri atau para orangtua untuk dapat menjadi teladan dalam membaktikan diri sepenuhnya bagi orang lain bagi anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada anda berdua. Dan semoga dengan pengalaman pembaktian diri tersebut ada di antara anak-anak anda kemudian terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster.
"Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, noda meliputi mukaku. Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku; sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku" (Mzm 69:8-10)

Selasa, 03 April 2012

"Sebelum ayam berkokok engkau telah menyangkal Aku tiga kali." (Yes 49:1-6; Yoh 13:21-33.36-38)



" Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: "Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!" Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, siapakah itu?" Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera." Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam. Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu. Simon Petrus berkata kepada Yesus: "Tuhan, ke manakah Engkau pergi?" Jawab Yesus: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku." Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!" Jawab Yesus: "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." (Yoh 13:21-33.36-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Dalam kutipan Warta Gembira hari ini dikisahkan dua murid Yesus yang berbeda satu sama lain, yaitu Yudas Iskariot, yang mengkhianatiNya serta Petrus yang diramalkan oleh Yesus akan mengkhianatiNya juga. Dari dua tokoh ini yang paling dekat dengan pengalaman kita hemat saya adalah Petrus. Bukankah kita sering dengan mudah mengumbar janji kepada seseorang, namun ketika tiba waktunya janji harus diwujudkan dengan mudah juga ingkar janji. Orang baru saja dibaptis berjanji akan hidup baik, orang yang baru saja saling meresmikan hidup bersama sebagai suam-isteri berjanji akan saling mengasihi sampai mati, orang yang baru saja ditahbiskan menjadi imam berjanji menjadi imam yang baik, penuh pelayanan bagi umat, orang yang baru saja berkaul berjanji untuk membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui sesamanya, dst.., namun pada umum seiring dengan perjalanan waktu janji mengalami erosi alias tidak setia pada janji. Maka marilah kita berusaha untuk setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat. Ini diwujudkan dalam perilaku tetap memilih dan mempertahankan perjanjian yang telah dibuat dari godaan-godaan lain yang lebih menguntungkan" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24-25). Hemat saya kesetiaan pada janji pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan.
·   "Firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya -- maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku --, firman-Nya: "Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi."(Yes 49:5-6). Menjadi terang bagi bangsa-bangsa sampai ke ujung bumi kiranya juga menjadi panggilan kita semua, segenap umat beriman. Hemat saya orang yang sungguh setia pada janji-janji yang telah diikrarkan dapat menjadi terang bagi sesamanya, dengan kata lain dapat menjadi fasilitator bagi sesamanya untuk semakin beriman, semakin suci, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Yang Ilahi melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Kami berharap para orangtua dapat menjadi teladan kesetiaan bagi anak-anaknya di dalam keluarga, sehingga anak-anak kelak juga akan tumbuh berkembang menjadi orang-orang yang setia pada panggilan dan tugas pengutusannya. Kami juga berharap kepada kita semua untuk tidak dengan mudah mengumbar janji kepada sesamanya.
"Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku! Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku." (Mzm 71:1-3)

Senin, 02 April 2012

"Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu" (Yes 42:1-7: Yoh 12:1-11)



" Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu." Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus." (Yoh 12:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hari-hari menjelang bepergian jauh atau pindah tugas pekerjaan pada umumnya orang menyelenggara-kan makan bersama dengan sahabat-sahabatnya untuk mempererat persaudaraan sejati dan tentu saja juga ada harapan agar persaudaraan tetap jalan terus meskipun tempat berjauhan satu sama lain. Dalam acara tersebut pada umumnya juga ada orang yang dengan murah hati serta penuh kasih memberi sesuatu yang sangat berharga kepada yang akan pergi. Begitulah yang terjadi ketika Yesus makan bersama di rumah Lazarus, Maria, yang pernah disembuhkan atau diampuni oleh Yesus menghaturkan terima kasih dan syukur kepadaNya dengan "setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya". Melihat hal itu, Yudas Eskariot, yang bersikap mental materialistis, menyayangkan perbuatan Maria tersebut, dan Yesus pun menegornya dengan berkata "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.". Marilah kita renungkan atau refleksikan apa yang disabdakan oleh Yesus ini. Dalam minggu suci ini kita diajak untuk membaktikan apa yang paling berharga, yang kita miliki saat ini, kepada Tuhan yang telah menganugerahinya. Apa yang paling berharga bagi kita masing-masing? Harta benda? Uang? pangkat atau kedudukan? Suami atau isteri atau anak-anak? Dst..? Hemat saya yang paling berharga adalah hati kita masing-masing, maka marilah kita persembahkan hati kita kepada Tuhan, yang berarti senantiasa memparhatikan dan melakukan apa-apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan bagi kita masing-masing tidak lain adalah keselamatan jiwa, maka hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa mengusahakan keselamatan jiwa, entah jiwa kita sendiri maupun jiwa saudara-saudari kita.
·   "Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara" (Yes 42:6-7). Sabda Tuhan bagi nabi Yesaya ini kiranya juga terarah bagi kita semua, umat beriman atau umat beragama, maka marilah kita renungkan dan hayati. Kita semua dipanggil untuk menjadi "terang untuk bangsa-bangsa", dan tentu saja kita sendiri hendaknya senantiasa berada di dalam terang, tidak berada di dalam remang-remang atau kegelapan, artinya menjadi orang baik, jujur dan berbudi pekerti luhur. Maka marilah kita perhatikan saudara-saudari kita yang buta atau berada di dalam hukuman atau penjara. Mereka yang buta hatinya kita datangi dan terangi agar bersedia membuka hatinya terhadap sapaan dan sabda atau kehendak Tuhan. Mereka yang berada di dalam penjara kita bebaskan, terutama mereka yang terpenjara secara social, emosional maupun spiritual, misalnya orang yang mudah marah atau berperilaku keras terhadap saudara-saudarinya. Kepada mereka ini kita tawarkan keutamaan lemah lembut dan kasih pengampunan, sehingga mereka bertobat menjadi orang yang hidup dan bertindak dengan lemah lembut dan kasih pengampunan. Kepada para orangtua, para guru, para pamong/pembina atau pendamping dalam kehidupan bersama dimanapun kami harapkan untuk bertindak dengan lemah lembut dan kasih pengampunan.
"TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itu pun aku tetap percaya" (Mzm 27:1-3)

Minggu, 01 April 2012

Minggu PALMA: Yes 50:4-7; Fil 2:6-11; Mrk 14:1-15:47 "Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib"



"Oleh karena itu, aku mengharapkan supaya kalian dengan rajin dan tekun memperdalam dan melatih diri untuk memandang Kristus Tuhan dalam setiap Pembesar. Hendaklah kalian mempersembahkan hormat serta taat dengan khidmat yang besar kepada kedaulatan ilahi melalui Pembesar. Apakah itu sesuatu yang aneh? Tidak!. Perhatikanlah saja perintah rasul untuk pembesar-pembesar, bahkan kepada pembesar duniawi dan kufur sekali pun, seperti kepada Kristus, asas segala wewenang yang teratur baik" (St.Ignatius Loyola, Surat kepada para Yesuit di Portugal, 26 Maret 1533, art. 4). Ada kecenderingan umum sejak dahulu sampai sekarang bahwa orang-orang pandai dan cerdas otaknya ada kemungkinan hidup dan bertindak menurut kemauan, keinginan atau selera pribadi, dengan mengandalkan keunggulan manusiawinya, keccmerlangan otaknya. Ignatius Loyola mengajak para pengikutnya untuk setia menjadi sahabat-sahabat Yesus. Selama Minggu/Pekan Suci ini kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus diajak dan dipanggil untuk semakin mengenal dan bersahabat dengan Yesus Kristus, maka marilah kita awali Minggu Suci ini dengan merenungkan ajakan rasul Paulus kepada umat di Filipi.
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-8).
Saya percaya bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin hidup sendirian, kccuali mereka yang bermasalah atau sedang menghadapi masalah serta kemudian untuk sementara menyepi guna bermeditasi. Di dalam meditasi pun sebenarnya juga tidak sendirian, melainkan secara spiritual dalam kebersamaan dengan sesamanya dan Tuhan. Paulus mengingatkan dan mengajak kita semua agar di dalam hidup bersama "menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus", yang rendah hati dan taat kepada kehendak Allah sampai mati, "bahkan sampai mati di kayu salib".
Hidup bersama yang paling konkret hemat kami terjadi di dalam keluarga, antara suami dan isteri, suami-isteri dan anak-anak, anggota keluarga dan para pembantunya, serta kemudian diperluas dalam kehidupan bersama dalam satu rukun tetangga (RT). Maka kami berharap keluarga-keluarga yang dibangun dan dihidupi oleh cintakasih dapat menjadi teladan dalam hidup bersama. Cintakasih berarti saling mengasihi dan hemat saya masa kini yang sering dilupakan dan sulit dihayati adalah dikasihi bukan mengasihi. Banyak orang bersedia mengasihi tetapi tak bersedia dikasihi. Marilah kita kenangkan bahwa kasih tidak senantiasa nikmat di hati, tetapi juga sering menyakitkan hati, misalnya ketika kita ditegor keras atau dimarahi oleh orangtua atau guru/pendidik. Bukankah tegoran dan kemarahan tersebut merupakan wujud kasih mereka kepada kita, dan kita merasa sakit karenanya?
Yesus "telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba". Nasib seorang hamba yang baik hemat kami harus siap sedia untuk menderita karena kesetiaan dan ketaatannya. Seorang hamba yang baik senantiasa berusaha dengan rendah hati dan kerja keras untuk membahagiakan tuan-tuanya atau mereka yang harus dilayani. Sebagai murid-murid atau pengikut Yesus kita dipanggil untuk hidup dan bertindak saling melayani, saling membahagiakan dan saling menyelamatkan. Marilah kita kerahkan atau persembahkan hati, jiwa, akal budi dan tenaga atau kekuatan kita untuk melayani, membahagiakan dan menyelamatkan orang lain, dan hendaknya dijauhkan aneka cara hidup dan cara bertindak yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, kelompok atau saudara sedarah dan sedaging saja.
"Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!" (Mrk 15:38-39)
Mereka yang disebut tentara atau pasukan pada umumnya memiliki kesehatan tubuh prima, dan memang kesehatan tubuhnya merupakan andalan pokok atau utama dalam melaksanakan tugas atau kewajibannya. Maka pada tentara akan membanggakan kesehataan dan kekuatan tubuhnya dan ada kecenderungan untuk menjadi sombong. Maka cukup menarik dan mengesan apa yang terjadi di dekat salib Yesus, ketika Yesus mati di kayu salib, dimana kepala pasukan yang menyaksikanNya dengan rendah hati berkata: "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!", pengakuan iman bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi Manusia, Penyelamat Dunia yang dinanti-nantikan kedatanganNya oleh banyak orang.
"Anak Allah" berarti orang yang menunjukkan melalui cara hidup dan cara bertindaknya ada hubungan khusus dengan Allah, sehingga melalui cara hidup dan cara bertindaknya orang dapat menyaksikan Allah hidup dan berkarya di dalam dirinya. Sebagai orang beriman kita sering disebut sebagai 'Umat Allah', dengan kata lain memiliki hubungan khusus dengan Allah. Kita semua tak mungkin terlepas dari Allah, hidup, pertumbuhan dan perkembangan kita tergantung dari Allah, maka hendaknya tidak pernah melupakan sedikitpun peran Allah dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun.
"Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi." (Yes 50:4-6), demikian kesaksian iman Yesaya. Marilah sebagai umat beriman atau umat Allah kita belajar dari atau meneladan Yesaya. Kegiatan yang paling banyak kita lakukan adalah berkata dan mendengarkan: dalam berkata-kata kita diharapkan memberi semangat baru kepada yang letih lesu dan kita diharapkan juga menjadi pendengar yang baik, tidak menjadi pemberontak.
Ada pepatah bahwa lidah itu lebih tajam dari pada sebilah pedang, kata-kata yang keluar sering lebih pedas dari aneka jenis lombok, menusuk hati sehingga sakit hati dan sulit disembuhkan. Kita semua diharapkan mengeluarkan kata-kata yang memberi semangat atau menggairahkan mereka yang letih lesu dan putus asa. Maka hendaknya berkata-kata dengan cintakasih, rendah hati dan lemah lembut atau dalam bahasa Indonesia sering dikatakan berbudi halus. "Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah" (Yak 3:6-9). Kita semua diharapkan memiliki lidah yang senantiasa memuji Tuhan melalui saudara-saudari kita. Maka marilah kita saling memuji satu sama lain di dalam kehidupan sehari-hari kita.
"Anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku. Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku" (Mzm 22:17-20)