Senin, 16 April 2012

"Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Kis 4:23-31; Yoh 3:1-8)



"Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." (Yoh 3:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Sungguh merupakan hal istimewa bahwa ada salah seorang Farisi, bernama Nikodemus, datang kepada Yesus, dan karena takut pada teman-temannya ia mendatangi Yesus pada waktu malam. Keberanian macam ini kiranya sungguh karena bisikan atau dorongan Roh Kudus, bukan hanya mengandalkan diri sendiri saja. Dalam Roh Kudus Nikodemus bercakap-cakap dengan Yesus dan kepadanya kemudian diajarkan bahwa untuk dapat 'melihat Kerajaan Allah" atau 'melihat Allah yang meraja dan bekerja dalam seluruh ciptaanNya' harus dilahirkan kembali dalam dan oleh Roh Kudus. Hal ini bagi kita berarti harus menerima Sakramen Inisiasi, antara lain Sakramen Baptis dan Sakramen Penguatan. Kami percaya sebagian besar dari anda yang menerima email saya pasti telah menerima Sakramen Baptis, Sakramen Penguatan dan Sakramen Ekaristi, maka kami harapkan hidup dan bertindak dalam dan oleh Roh Kudus. "Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh", demikian sabda Yesus. Sabda ini kiranya mengingatkan kita semua bahwa di dalam kehidupan bersama sebagai orang beriman atau beragama, dan secara khusus bagi umat Katolik dalam hidup menggereja, hendaknya lebih mengutamakan 'organisme' bukan 'organisasi', paguyuban bukan struktur. Memang organisasi dengan segala perangkatnya, seperti administrasi dst.. perlu, namun tidak mutlak. Yang penting dan utama adalah kehidupan bukan ketertiban berorganisasi. Marilah kita buka telinga hati, jiwa dan akal budi kita untuk mendengarkan suara Roh maupun ke mana kita harus pergi atau melangkah
·   "Sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus." Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani" (Kis 4:29-31), demikian berita gembira tentang apa yang terjadi dalam kebersamaan umat beriman. "Memberitakan firman Allah dengan berani", inilah yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Untuk berani memberitakan firman Allah tentu saja dari pihak kita sendiri harus rajin, tekun dan setia membaca, merenungkan dan menghayati firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maaf, jika saya setiap hari berusaha merefleksikan firman Allah , tidak lain karena motto tahbisan imamat saya, yang saya pilih sebagai inti pengalaman hidup beriman, yaitu  "Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya" (Ef 3:12). Bersama dan bersatu dengan Allah tiada ketakutan atau kekhawatiran sedikitpun, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Marilah dalam Roh Kudus kita senantiasa memberitakan firman Allah, agar siapapun yang kita jumpai atau temui siap sedia dan rela dengan sepenuh hati hidup dan bertindak sesuai dengan firman Allah. Mungkin secara konkret hidup dan bertindak sesuai dengan firman Allah berarti senantiasa mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing masa kini. Hendaknya konstitusi, pedoman hidup, katekismus, dokumen Vatikan II, Kitab Hukum Kanonik, dst…sering dibaca, direnungkan serta diusahakan terus menerus. Marilah kita songsong "Tahun Iman" yang akan datang dengan mulai membaca aneka dokumen yang terkait dengan panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban kita masing-masing.
"Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya:"Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!"(Mzm 2:1-3)

Minggu, 15 April 2012

Mg Paskah II: Kis 4:32-35; 1Yoh 5:1-6; Yoh 20:19-31 "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."



Jika kita mawas diri dengan benar dan baik, kiranya kita semua sejak kecil telah terlatih atau tebiasakan menerima aneka info atau hal-hal baru dari orang lain, entah itu berupa peristiwa, pengetahuan, nama-nama orang / barang / binatang, dst .. , Meskipun kita belum melihatnya namun kita percaya sepenuhnya. Namun pada masa jaya-jayanya PKI (Partai Komunis Indonesia) di negeri ini juga ada gerakan yang dilakukan untuk mendidik dan membina anak-anak kecil agar hanya mempercayai apa yang telah dilihatnya, atau yang dapat diraba dan dinikmati secara phisik.Misalnya ada guru Taman Kanak-Kanak bertanya kepada para peserta didiknya: " Anak-anak, apakah Tuhan itu ada? ". Anak-anak pun tidak berani menjawabnya dan diam seribu bahasa. Maka guru tersebut lalu minta kepada anak-anak untuk berdoa kepada Tuhan seraya mohon kepada Tuhan agar diberi manisan. Anak-anak pun diminta memejamkan mata sambil berdoa bersama " Tuhan, kami mohon manisan ". Setelah itu anak-anak diminta membuka mata dan sang guru bertanya " Apakah Tuhan memberi manisan? ". "Tidak ..", jawaban serentak anak-anak. Kemudian sang guru minta anak-anak memejamkan mata kembali sambil berkata " Bu guru, kami minta manisan ", dan kemudian bu guru pun membagikan manisan satu per satu di atas meja anak-anak. Setelah selesai membagikan bu guru minta anak-anak membuka mata, dan kemudian bertanya " Bu guru, memberi manisan? ". "Ya ...", jawaban anak-anak. Kemudian bu guru berkata: " Jadi yang ada adalah bu guru dan Tuhan tidak ada "
           " Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya " (Yoh 20:29)
Yesus yang telah bangkit dari mati hidup dan berkarya terus menerus melalui Rohnya, tak terikat oleh ruang dan waktu, kapan saja dan dimana saja. Dalam Warta gembira hari ini dikisahkan perihal Tomas, rasul, yang ketika Yesus menampakkan diri kepada para rasul, ia tidak berada bersama para rasul, maka ketika mereka menceritakan perihal penampakkan Yesus, ia tidak percaya. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya . " (Yoh 20:25), demikian tanggapan Tomas pada ceritera teman-temannya. Waktu Yesus menampakkan diri untuk pertama kali kepada para rasul terjadi pada hari Paskah, dan seminggu kemudian, pada hari Minggu, Yesus menampakkan diri lagi kembali kepada mereka dan Tomas ada di antara mereka. Maka Yesus pun menegor Tomas, yang memang kemudian menjadi percaya juga, " Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya . "
Kita sering disebut orang beriman, berarti orang yang percaya sepenuhnya pada apa yang tak terlihat, " tidak melihat, namun percaya ". Maka marilah kita hayati sepenuhnya apa yang menjadi keyakinan iman kita masing-masing, percaya bahwa Tuhan senantiasa hidup dan berkarya di dalam ciptaan -ciptaanNya, terutama dalam diri manusia beriman. Untuk itu kita diharapkan juga percaya satu sama lain, dan tentu saja masing-masing dari kita juga tidak pernah memberitahukan kebohongan-kebohongan atau kepalsuan-kepalsuan. Dengan kata lain masing-masing dari kita harus jujur ​​terhadap diri sendiri, tidak pernah menipu diri atau membohongi diri. Sebagai orang beriman kita semua diharapkan hidup dan bertindak dalam dan dengan semangat iman, sehingga kita akan menjadi orang-orang yang cerdas secara spiritual.
Orang yang cerdas secara spiritual antara lain hidup dan bertindak sesuai dengan visi atau misi dari hidup bersama yang telah dimasuki dan digeluti bersama, tidak mengikuti selera atau kemauan pribadi lagi. Maka hendaknya kita sungguh percaya dan menghayati apa saja yang pernah dijelaskan atau diterangkan kepada kita terkait dengan visi dan misi hidup bersama dimana kita geluti dan menjadi anggotanya. Sebagai contoh misalnya untuk kita yang terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster, Yesus bersabda kepada kita bahwa "setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang keka l. " (Mat 19:29). Pengalaman saya pribadi sebagai imam Yesuit hal itu sungguh menjadi kenyataan, dimana saya memiliki banyak sahabat dan teman karena menghayati sabda Yesus tersebut, dan dengan kerja keras dan rendah hati berusaha menghayati spiritualitas Ignatian maupun apa yant tertulis di dalam Konstitusi Serikat Yesus. Sedangkan kepada Anda yang berkeluarga hendaknya menghayati sabda Yesus juga bahwa harus meninggalkan orangtua atau ayah dan ibu serta kemudian hidup bersama sebagai suami-istri dengan saling mengasihi sehingga menghasilkan buah kasih yang melimpah, yaitu anak, cucu, buyut, canggah dst ..

" Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga dia yang lahir dari pada-Nya. Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya " (1Yoh 5:1-2)

" Mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintahNya " inilah yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari sebagai umat beriman. Bagi kita umat yang beriman kepada Allah 'mengasihi Allah' sebenarnya adalah hidup dengan penuh syukur dan terima kasih sebagai tanggapan kita pada Allah yang telah mengasihi kita dengan melimpah ruah melalui sekian banyak orang yang telah berbuat baik kepada kita, mengasihi dan memperhatikan kita melalui aneka cara dan bentuk sejak kita dilahirkan dari rahim ibu kita masing-masing. Hidup dalam syukur dan terima kasih berarti memang tidak pernah serakah dengan mewujudkan syukur dan terima kasih tersebut dengan tindakan konkret 'berbagi dan peduli' untuk orang lain, terutama untuk mereka yang miskin dan berkekurangan. Semua perintah Allah kiranya dapat disimpulkan atau dipadatkan dalam perintah saling mengasihi serta kemudian kita wujudkan dengan saling berbagi dan peduli satu sama lain, tanpa pandang bulu.

Ada kasih atau berbagi dan peduli yang paling utama dan pokok hemat saya adalah dengan tidak pelit memboroskan waktu dan energi untuk mereka yang harus kita kasihi atau kepada siapa kita harus berbagi dan peduli. Dengan kata lain kehadiran kita untuk mereka sungguh dibutuhkan, dan kemudian memang perlu sebagai pendukung dan penguat dalam menghadirkan diri kita   juga membagikan sebagian apa yang kita miliki dan mereka butuhkan, misalnya makanan, minuman, uang, pakaian dst .. Ingatlah dan sadari serta hayati bahwa jati diri kita adalah mahkluk sosial, manusia yang harus hidup bersama dengan orang lain untuk saling mengasihi dan saling berbagi dan peduli.

Selanjutnya dalam hidup bersama kita sebagai umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus, marilah dalam hidup bersama meneladan cara hidup jemaat purba, sebagaimana dikisahkan dalam Kisah Para Rasul ini, yaitu " Adapun orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari hakmiliknya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang memiliki tanah atau rumah, menjual miliknya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan kebutuhannya . " (Kis 4:32-35). Cara hidup jemaat purba merupakan cermin dan tolok ukur keberhasilan atau kesetiaan kita sebagai orang beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus.

Hari ini juga merupakan "Hari Minggu kerahiman Ilahi", suatu ajakan untuk secara konkret menghayati motto APP tahun ini maupun meneladan cara hidup jemaat purba, yaitu 'berbagi dan peduli'. Para rekan perempuan atau wanita memiliki rahim, dan di dalam rahimlah kehidupan dimulai dan tumbuh berkembang karena kerahiman, maka semoga Anda juga dapat menjadi teladan dalam menghayati keutamaan 'kerahiman Ilahi', artinya cara hidup dan cara bertindak Anda dimanapun dan kapanpun senantiasa menghidupkan dan menggairahkan orang lain. 

" Tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan! " Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.TUHAN telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut . "(Mzm 118:16-18)

Sabtu, 14 April 2012

"Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Kis 4:13-21; Mrk 16:9-15)




" Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Mrk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hari untuk bergerak atau bepergian, entah jauh atau dekat. Maka baiklah dimanapun berada atau kemanapun pergi kami harapkan kita semua senantiasa memberitakan Injil kepada segala makhluk, yang kami maksudkan dengan Injil lebih-lebih adalah Kabar Baik atau Kabar Gembira. Marilah kita beritakan apa-apa yang baik dan menggembirakan kepada segala makhluk  yang ada di permukaan bumi ini. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah pada awal mulanya semuanya baik adanya, dan menjadi tidak baik atau rusak karena dosa-dosa manusia, tindakan atau perilaku yang tak bermoral dari sekian banyak manusia. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus, yang telah wafat dan dibangkitkan, kita diharapkan senantiasa dalam keadaan baik atau gembira, sehingga kemanapun pergi atau dimana pun kita berada dapat memberitakan apa yang baik dan menggembirakan. Jika di lingkungan hidup dan kerja kita ada sesuatu yang tidak baik, hendaknya segera diperbaiki tanpa tunggu waktu atau perintah orang lain. Kalau yang tidak baik adalah manusia hendakanya diperbaiki dengan cintakasih dan rendah hati, karena dengan kerendahan hati dan cintakasih kita pasti mampu memperbaikinya.
·   "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." (Kis 4:19-20), demikian tanggapan Petrus dan Yohanes terhadap ancaman tokoh-tokoh Yahudi.  "Taat kepada kamu atau taat kepada Allah", inilah yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan bersama. Sebagai orang beriman kiranya kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia, apalagi manusia yang gila akan harta benda/uang, kedudukan maupun kehormatan duniawi alias mereka yang bersikap marerialistis. Kehendak atau perintah Allah antara lain sebagaimana disabdakan oleh Yesus adalah "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Mat 5:44).  Pada umumnya perintah manusia adalah menghabisi musuh serta mencelakakan mereka yang menganiaya alias balas dendam dengan tindakan yang lebih keras dan menyakitkan. Allah adalah Maha Kasih, maka kepada siapapun kita yang beriman kepadaNya dipanggil untuk senantiasa mengasihinya. Memang kasih akan lebih menjadi nyata dan kentara ketika harus diwujudkan kepada mereka yang memusuhi kita atau menganiaya kita dengan atau melalui aneka bentuk dan cara. Kami percaya bahwa kita semua memiliki musuh atau menghadapi orang-orang yang menganiaya kita, yaitu mereka yang mempersulit atau menghambat kita dalam rangka mewartakan apa yang baik dan menyelamatkan. Hadapi dan sikapi siapapun yang memusuhi ktia dalam dan oleh kasih alias melaksanakan perintah Allah untuk mengasihi musuh. Jika tak mungkin secara langsung menghadapi mereka, hendaknya didoakan, biarlah Allah sendiri yang akan menyentuh dan menegor mereka agar tidak memusuhi kita. Memang suatu tindakan yang sangat mulia dan luhur jika kita senantiasa mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang menganiaya kita. Marilah kita ingat dan kenangkan bahwa Yesus juga telah melakukan tindakan itu, yaitu ketika berada di puncak penderitaanNya di kayu salib, Ia mendoakan mereka yang menyalibkanNya atau memusuhiNya.
"Tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!"Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN. TUHAN telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut.Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada TUHAN. Inilah pintu gerbang TUHAN, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya.Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku" (Mzm 118:16-21)

Jumat, 13 April 2012

"Malam itu mereka tidak menangkap apa-apa." (Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14)



"Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid -Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, apakah kamu memiliki lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." Maka kata Yesus kepada mereka: "tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu." Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau? "Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati . "(Yoh 21:1-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hidup dan bertindak hanya mengikuti selera, kemauan atau keinginan pribadi pasti akan gagal dan kemudian frustrasi.Orang yang hidup dan bertindak demikian ini pada umumnya juga orang yang sedang frustrasi. Begitulah yang terjadi di antara para murid atau rasul, yang sebelum mengikuti Yesus memiliki pekerjaan utama sebagai nelayan, ketika ditinggalkan Yesus untuk selama-lamanya kehilangan pegangan atau pedoman hidup yang pernah diajarkan, maka kemudian kembali ke pekerjaan semua sebagai nelayan.Mereka adalah nelayan yang tangguh dan handal, namun semalaman menjala ikan di danau tak seekorpun diperoleh.Menebarkan jala hanya mengikuti selera pribadi gagal total, namun ketika menebarkan jala atas nama Tuhan mereka menangkap ikan banyak sekali alias berhasil atau sukses besar. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk hidup dan bertindak tidak mengikuti selera atau kemauan pribadi, melainkan mengikuti perintah atau kehendak Tuhan, yang secara konkret berarti menghayati spiritualitas, charisma atau visi hidup terpanggil, entah secara pribadi atau bersama-sama. " In nomine Iesu "= Dalam nama Tuhan, itulah motto gembala kita, Mgr A.Soegijapranata SJ dan Bapak Yulius Kardinal Darmaatmaja SJ dalam mengemban tugas sebagai gembala umat. Kiranya kita tahu bahwa buah penggembalaan Mgr Sogija sungguh menggembirakan, antara lain berkembangnya jumlah maupun kwalitas umat Allah di Keuskupan Agung Semarang: cukup banyak tokoh Gereja maupun masyarakat telah dilahirkan dalam penggembalaan beliau. Maka dengan ini kami mengajak rekan-rekan imam, bruder atau suster serta publik untuk setia pada spiritualitas hidup bersama / lembaga masing-masing dalam cara hidup dan cara bertindak.
·   " Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati - bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu . " (Kis 4:10), demikian jawaban Petrus atas pertanyaan Imam Besar Yahudi perihal atas nama siapa ia menyembuhkan orang sakit. Orang-orang sakit kiranya ada di lingkungan hidup dan kerja kita, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh / phisik. Marilah mereka kita sembuhkan dalam nama Tuhan; kita dekati dan perlakukan mereka dalam dan dengan cintakasih dan kebebasan Injili. Banyak orang menderita sakit hemat saya karena kurang kasih atau merasa tidak atau kurang dikasihi, padahal jika yang bersangkutan jujur ​​mawas diri kiranya ia telah menerima kasih secara melimpah ruah dari Allah melalui saudara-saudarinya.Mendekati dan memperlakukan orang sakit dalam dan dengan cintakasih dan kebebasan Injili berarti mengingatkan mereka akan kasih yang telah mereka terima. Percayalah jika kita mendekati dan memperlakukan dengan dan dalam cintakasih dan kebebasan Injili, maka apa yang kita lakukan akan menghasilkan buah yang melimpah dan menyelamatkan, terutama keselamatan jiwa.
" Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" Biarlah orang yang takut akan TUHAN berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya ! "(Mzm 118:1-2.4)